AS Kehabisan Koin, Bawa Dolar Digital Semakin Dekat?

Satu efek samping dari adanya krisis karena pandemi membuat Amerika kekurangan uang koin secara nasional.

Ada beberapa alasan di balik defisitnya koin Amerika ini. Pertama mint AS mengrangi produksi koin untuk melindungi karyawan terhadap pandemi ini. Kedua, tidak ada yang belanja menggunakan koin. 

Sebaliknya, konsumen lebih memilih bertransaksi digital, menggunakan pembayaran mobile, kartu kredit, dan kartu debit untuk menghindari kontak dengan uang tunai. Mengatasi masalah ini, bisnis ritel sebagai dasar bagi peredaran koin, seperti binatu, transportasi, atau kasino, operasionalnya terpaksa tertutup ataupun melambat.

Jika melihat kondisi tersebut tentu krisis koin tidak dapat dihindari. Tanpa perubahan terhadap peraturan apapun mengenai pelanggan harus menggunakan uang tunai atau tidak, penjual pengecer tidak punya pilihan selain berhenti menerima uang tunai sama sekali.

Untuk membuat koin kembali ke peredaran, The Fed dan US Mint pada bulan Juli ini menjatahkan uang kertas, nikel, koin, dan kuartal, serta mendorong konsumen untuk “mulai menghabiskan koin mereka, menyerahkannya, atau menukarnya dengan mata uang lain di lembaga keuangan atau mengambilnya ke kios penebusan koin.”

Baca juga: Asosiasi Bankir: Dolar Digital Beri Federal Reserve Terlalu Banyak Kekuatan

Dolar Digital: Menunggu Sen Jatuh?

Dengan pengecer di AS didorong ke dalam sistem tanpa uang tunai, mengekspos adanya sistem seperti perangkap dalam uang tunai fisik, membuat pendukung mata uang digital memanfaatkan peluang tersebut.

Boleh dibilang, momentum ini dimanfaatkan untuk mengkampanyekan penghentian penggunaan mata uang tunai fisik. Di luar itu, memang penggunaan uang tunai secara perlahan mulai menurun, bahkan ini terjadi sebelum krisis karena pandemi virus korona terjadi.

Menurut sebuah studi dari bank cadangan federal San Francisco, orang Amerika yang menggunakan uang tunai hanya dalam 26% transaksi pada tahun 2019, turun dari semula 30% pada tahun 2017.

Baca juga: Proyek Digitalisasi Dolar AS Dimulai?

Pekan lalu, J. Christopher Giancarlo, mantan ketua Commodity Futures Trading Commission (CTFC), mengajukan kas digital ke Komite Senat AS di Perbankan, Perumahan, dan Urusan Perkotaan, dengan alasan bahwa itu bisa menjadi “bukti masa depan” dari dolar dan disandingkan dengan penawaran serupa dari Tiongkok.

“Inilah yang sedang diuji coba oleh Tiongkok baru-baru ini, dengan mata uang mereka sendiri, untuk menjadikannya unggul secara teknologi mereka menjadikannya digital, tokenisasi, fraksionalisasi, dan dapat diprogram,” kata Giancarlo kepada subkomite Senat mengenai kebijakan ekonomi dalam sidang Rabu lalu.

Tiongkok terus maju dengan mata uang digitalnya sendiri (DCEP) dengan beta publik menjelang peluncuran. Mata uang tersebut juga direncanakan untuk diikutsertakan dalam Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. 

Tentunya, DCEP ini juga menghadapi masalahnya sendiri terkait dengan pertanyaan privasi yang diberikan kepada para pengguna saat melakukan transaksi. Giancarlo sebelumnya berpendapat bahwa “nilai-nilai privasi yang ada dalam masyarakat majemuk” juga harus berlaku untuk mata uang digital bank sentral (CBDCs) seperti Dolar Digital.

Dengan penggunaan uang tunai yang menurun, dan Tiongkok sebagai saingan terus bergerak maju dengan mata uang digitalnya, AS menghadapi kemungkinan yang sangat nyata akan menuju kekalahan dalam perlombaan terkait Mata Uang Digital Bank Sentral ini. 

Baca juga: Pejabat Tiongkok: Pembangunan Back-End Yuan Digital Telah Selesai

Jika hal itu tidak juga mendorong AS untuk segera menguji mata uang digital, maka AS akan tertinggal jauh.

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini